MARYAMAH KARPOV - MIMPI - MIMPI LINTANG

Pukulan akhir Tetralogi "Laskar Pelangi", sebuah semangat Nasionalisme (Lebih tepatnya, keinginan untuk mengangkat Realitas Hidup di Daerah Penulis) yang dituangkan dalam novel ke-4 berjudul Maryamah Karpov (Setelah Laskar Pelangi, Edensor dan Sang Pemimpi)


Andrea Hirata - Di sebuah Toko Buku terkenal di Cipete, Jakarta Selatan.


Tanpa Promosi dan publikasi besar (Kecuali yang saya tahu Kompas, Kamis, 27 November, 2008), tampak tim dari penerbit Novel ini sangat percaya akan mendapatkan antusias dari masyarakat mengingat penonton dari Novel Indonesia yang sudah dibuat Pertama Film seri masih sangatlah banyak .

Tidak salah jika momentum ini masih bisa digunakan untuk terus dengan harapan Maryamah Karpov (Mimpi-Mimpi Lintang) ini akan setidaknya dapat menjelma sebagai seri berakhir yang manis dan tidak salah pula jika penerbit Laskar Pelangi ini berani tampil dengan sekuel dan yakin atas claim mereka yang sudah ditonton oleh sedikitnya 4,2 juta orang Indonesia. 

Melalui Cinema Cinema-berlabel 21 (ini tidak termasuk yang di blits dan Layar Tancap). Sebuah angka yang cukup Fantastic mengingat apresiasi masyarakat kita terhadap Film Indonesia produksi dalam negeri sangat kecil dalam beberapa tahun terakhir. Angkat Topi tinggi-tinggi untuk duo Mira Lesmana dan Riri Reza (Sayangnya mereka tidak bisa hadir karena pergi ke Bangkok, Thailand untuk pengamatan film baru mereka) yang tidak pernah jera dengan kreatifitasnya.

Jante Arkidam


"Mengapa Jante Arkidam ?. Siapa lagi ini?". Penulis sangat terkesan dengan gemuruh lolongan vokal dan wajah bersahaja nya.  Ekspresi mata yang tajam dari Aktor Monolog "Iman Sholeh" membangunkanku dari agenda acar yang mulai rasa jenuh dan menjemukan karena khawatir dengan tanda-tanda alam akan hujan ... 

Pemenang dari Lomba Puisi National  1989 (Salah satu dengan mengalahkan monolog sekarang terkenal, Butet Kartarajasa) mampu melaksanakan tugasnya  dengan ledakan emosi yang sekejab mampu membakar atmosfer ruangan. Serak pita suara dan gerakan dinamis dari kedua kaki, tangan dan tubuhnya menciptakan bahasa dialog tersendiri. Semua seperti bersenyawa dengan kemarahan yang tertuang pas di Puisi karya "Ayyib Rosyidi" berlabel "Jante Arkidam" ini. 

Jadi ,,, kalau boleh saya katakan, dialah bintang malam itu, bukan Dehide Band dengan Englishman In New York  (Ada di salah satu Mosaik utama dalam buku), Mathias Muchus atau Salman Aristo yang meramaikan daftar hadir di acara ini. 

Bahkan kecantikan Cut Mini dengan make up khas artist nya tidak bisa membuat saya melepaskan pandang kedua mataku. Dan lakon Jante Arkidam tidak cukup sampai disini saja,, Aktor Monolog tersebut lalu melanjutkan untuk memilih salahsatu pada Mozaik Cuplikan 11 Mimpi Lintang di Puisi berjudul lagu Happy Fun Fun my dear .... Kereeennn.

Back Stage


Dalam kerumunan banyak hadirin yang sebagian besar perempuan,  aku bisa bebas bertemu dengan para seniman di balik kata-kata  "komonitas Langit" . Tidak  untuk mengambil foto bersama (karena saya tidak membawa kamera), tetapi setidaknya aku ingin meminta izin  untuk bisa menempatkan nama Aktor ini dalam tulisan saya kelak.,,,, belajar untuk selalu santun dalam berkreativitas .

"Monggooo," katanya dengan lembut, wajahnya yang kokoh masih basah dengan keringat , tetapi sama sekali tidak mengurangi kualitas sikap pada dirinya.  Inilah karakter Artis yang sesungguhnya , selalu sopan, ramah, rendah hati dan tampak jelas bagaimana ia  menikmati apa yang mereka miliki.

Sebuah gambaran nyata tingkat kebahagiaan yang ingin ia sampaikan pada setiap pembicaraan dengan kemasan yang sangat sederhana (Sejenak saya sedikit terkesan dengan Kumis gatotkaca yang tampak lebih ramah) ,,, Sederhan dan sangat berwibawa, jauh dari kesan glamor yang tidak sepantasnya.

Atribut Artis yang disandangnya tidaklah membuat Aktor ini luap akan hidupnya. Sungguh sangat berbeda dengan pada saat dia tampil dalam olah vokal dan serangkain gerak yang menakjubkan. Kedalaman cinta pada profesi yang mereka pilih, kebahagiaan yang ia pancarkan ... memberikan pesan yang dalam padaku.

"Mungkin dia tidak hidup dari pekerjaan ini ,,, tapi itu dia yang ingin terus menghidupkan pekerjaan ini."


"Jika ada waktu, mampir ke studio kami di Bandung,". 
Begitu katanya dalam logat bahasa yang tulus, lembut dan masih dengan sisa semangatnya, memberikan nuansa kekeluargaan yang hangat. Senyumnya hampir tidak pernah lepas dari bibir lembut sang Maestro ini. Dialog yang mungkin terlalu pendek, tapi sangat berkualitas.

Hanya beberapa menit memang. Tanpa skenario, tanpa merasa cemas , pesimis, apalagi rasa kuatir akan "dianggap" lebih rendah dari beliau. Jika semua orang memiliki sikap dan Ideologi seperti nya,, sungguh indah dunia ini yaa.

Andrea Hirata (lagi)


Inilah acara puncak yang ditunggu tunggu. Andrea Hirata dengan gaya Otentiknya ,, T-Shirts, topi kupluk dan senyum malu yang masih tetap melekat. Even seperti tak pernah terlintas olehnya bahwa ia kini telah menjadi jutawan baru di bumi Indonesia. Bagaimana kita bisa membayangkan, inilah orang yang dengan tekadnya telah menyeberangi 42 Kebudayaan dari Amerika sampai ke Afrika,, yaa betul sampai ke Afrika.

Hanya satu menit ,,, dan seolah-olah tidak ada lagi yang bisa digali darinya (akan ada sesi konferensi pers), Penerbit sengaja untuk tidak mengungkapkan isi dari buku barunya tersebut.

"Semua yang sudah memiliki Maryamah Karpov, silakan baca sendiri nanti,". 
Utu yang berulang kali dikatannya. Seperti selingan saja dengan ditambah sesi beberapa pertanyaan dari para penonton ,, Kemudian acar diakhiri dengan performent Lagu Soundtrack Hits berjudul sama dengan Judul Filmnya. Lalu kemudian Dehide Band menutup dengan lagu "Seroja". 

Sekali lagi, pilihan lagu yang smart dan penuh gaya, mengingatkan saya pada salah satu rekan seniman senior yang telah berpartisipasi dalam mempopulerkan lagu ini , Jens Butar-Butar (Amigos).

So,,Mari menyusun Seroja ,,, bunga Seroja aaaaa ,, Hiasan Sanggul remaja ,,, putri remaja ,,,,, Rupa nan elok ,,, dimanja ,, Jangan dimanja ,,, ... ,,,,, sampai di rumah sendirian, aku pun masih bernyanyi lagu ini.

Konferensi pers


Sengaja say tidak mengulas isi  buku bergambar perempuan memainkan biola. Karena tidak otoritas saya untuk itu, tapi lebih pada kemandirian dan apresiasi Anda  untuk membacanya nanti ... G "luck .. ......

Dalam kerumunan menuju pintu keluar, masih sempat saya mendengar Andrea Hirata dalam konferensi pers sedang berbicara tentang "kasus" nikah .... Ehhmmm ...

"Kok tentang pernikahan yang mereka tanyakan,?" ... Membuat saya tersenyum asam tidak dapat menyembunyikan apriori saya pada kuli tinta atau tukang ketik itu ... Jadi semakin sulit saja untuk sekedar membedakan mana wartawan, dan mana bukan Wartawan (Karyawan Infotainment) ?? ? ......

Ok ,,, Apapun itu ,, Selamat membaca

(Maaf tulisan berantakan karena saya kehilangan versi asli nya dengan bahasa Indonesia, jadi terpaksa menggunaka Google Translate di tulisan ini)
oleh: Agusdewi

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon

Notes Archive