MALAIKAT YANG SAMA,,

Semua yang kini ada,,,Dulu pernah ada...


Belajarlah hingga ke Negeri China, Mengingat China bagiku berarti adalah Filosofi Roda yang terus berputar Kadang diatas, sesekali dibawah Berputar lagi dan begitu seterusnya.


Intro


8 Tahun berlalu sudah. Semua telah berubah dan akan terus berubah. Warna pada celah-celah langit, mentari pagi yang malu menyembunyikan hangatnya, burung Gagak hitam beserta Elegy kematiannya. Namun, masih ada yang sama,,,tetap ada yang sama ketika perubahan juga mulai tampak pada dari tubuh-tubuh mungil kami.

Tetap ada yang sama saat Akumulasi ketidakadilan hidup mulai terasa akut dan tak terkendali lagi. Dan masih ada yang tak berubah (setidaknya hingga saat tulisan ini saya buat), pun ketika 4 bocah kecil telah begitu lelah mencoba melupakan dendam sejati mereka dalam dekapan erat keterbatasan melampiaskan Intensitas amarah yang semakin rapat hingga merangkak muncak.

Yaaa, "Malaikat yang sama" kembali lagi. Sekelebat ia menoleh kearahku. Persis seperti dulu, berlalu tanpa sedikitpun senyum dan rasa berdosa seperti hanya ingin memastikan bahwa akulah laki-laki kecil yang pernah ia temui 8 tahun silam. Diam tanpa sepatahpun kata, datang lalu berlalu pergi begitu saja.


"Harusnya kau juga berubah wahai Malaikat maut,!!".


Keinginanku untuk bertatap langsung dalam Perang Imagi tak sedikitpun digubrisnya. Menukik turun, melepas nyawa dari kungkungan jasad manusia, lalu lenyap melesat. Lepas oleh tiupan angin & kernyit miris nyanyi pohon-pohon bambu yang hampir memakan separuh dari halaman rumah kami (Bojonegoro jawa Timur)

"Akulah lawan sepadan untukmu wahai Malaikat Pencabut Nyawa,!!". 


Lantangku tertahan nyaris tak terdengar. Sayup tertelan hiruk pikuk tangisan dalam nuansa Teaterikal bertema Tragedi seri ke-2 itu. Sekuel tepat, lebih hebat, lebih terasa sentuhan Melankoliknya dibanding dengan Tragedi tergadainya Dewi Drupadi dalam cerita Komik karangan R.A Kosasih yang tuntas kami membacanya. Sungguh sempurnaaaa.


Reverse 1


Diterimanya Kotak Kapur itu dari teman-teman kecilnya.menengok berat & gesekan didalamnya, bisa kupastikan kalau isinya pastilah berupa kepingan-kepingan uang logam. Uang saku andalan teman-teman Sekolah Dasar dekat SPBU itu sebagai tanda belasungkawa dan rasa kesetiakawanan mereka.

Begitu kira-kira kalimat tepat mengusir sesal sebagian besar anak-anak kecil yang terpaksa harus merelakan es potong coklat kesukaannya. Satu alasan yang patut di-Patent-kan di hati & sanubari para putra-putri penerus bangsa tersebut.

Kupandangi satu persatu. Mencoba menterjemahkan kalimat Terimakasihku lewat realisasi nyata berupa letupan nanar dari kedua bola mataku. Wajah-wajah lugu itu hanya bisa terdiam sesekali menoleh, menghindar dari tusukan tatap mataku seolah tak tahu bagaimana memasang muka yang "Pas" pada moment baru seperti ini.

Terpikir olehku,pastilah mereka rindu, amat terangat rindu akan suara lantang Ketua Kelasnya saat harus memimpin doa diawal pelajaran sekolah. Membuatku merasa penting seperti dibutuhkan lalu sejenak dapat sedikit mengikis ingatanku tentang Pertikaian beda Duniaku dengan sang Malaikat tadi.

Dibawah rindang pohon Belimbing samping rumah, Sang Pemimpin kecil duduk terpekur. Libasan tangannya gontai, lesu seperti melayang, Jauh dari bumi yang telah menelan dalam-dalam kedua pilar pelindung pada diri Orang tuanya.

Masih melayang, namun tak jua tertembus awan. Gamang di sisiran pondasi batu bata panjang, dasar dari bangunan rumah kayu jati milik kakeknya seorang Pensiunan Kapten polisi yang sempat begitu disegani.

Hilang semua cerianya, tak tampak gagah air mukanya, Jauh dari pribadi yang biasa tampak kokoh seperti saat Galah berada dikedua genggamannya. Melompat,lentur,tipis melewati mistar yang lebih dari dua kali tinggi tubuhnya. (Olahraga Lompat Galah menjadi awal dari semua Olahraga yang saya gemari). Lunglai,terdampar dalam gelombang Ketidakadilan Takdir nan semakin menjadi. Punah segala angan dan harapan pada lekuk jurang paling dalam, meninggalkan mimpi meski belum sempat terajut rapi.

Reverse 2


Dan entah apapula yang kini tertahan beku dalam kepala-kepala lugu ketiga saudaranya. Hidup terlalu dini telah termulai. Mutiara tertua,Dodot tentulah menjadi pihak yang seharusnya paling berduka sekaligus bangga mengingat kematian berarti Pelantikan dirinya menjadi Ketua dalam empat sekawan. Salahsatu bacaan ditiap malam waktu belajarnya.

Usianya tak begitu laik memang, tapi rutinitas Kho Ping Ho telah membuatnya Leading jauh dari trek yang sesungguhnya. Belum lagi bakat besarnya sebagai "Kapitalis sejati meski tanpa hati". Niscaya akan mampu memberikan warna unik bagi realitas dunia kedepan kelak.

Beda hanya satu tahun, Akulah saksi hidup atas segala naluri serakahnya. Terprediksi jelas saat ia masih saja memaksakan "Hak" minum susunya, padahal anggaran partai saat itu hanya cukup untuk subsidi ketiga adik-adiknya. Posisi kedua yang menggiringku pada situasi penangkal dan pembuat Alternatif baru dalam Probability kekalahan yang semakin mendekat. Gawattt....

Ary,,,sang Arjuna Kalung Usus ini adalah Lakon yang mungkin paling ditunggu-tunggu. Diamnya berupa petasan karbit tanpa pemantik, Murung seperti bimbang, Ragu dalam letupan-letupan ringan menciptakan perimbangan menarik dari sisi yang ia temui pada kedua kakaknya.
Dan dialah pemain Sayap terbaik yang hanya akan berlari jika bola berada tepat di antara kedua kakinya.

Susy terakhir.Sosok gemuk penuh gizi, Pamungkas yang menjawab telak cita-cita Ayah tentang Mitologi seorang anak Perempuan.
"Jadilah Ibu bagi ketiga kakak-kakakmu,!". Itulah frase tepat jika surat wasiat sempat dituliskan Orang tua kami.

Semua yang kini ada, Dulu pernah ada


Kematian laksana perputaran roda, Menjanjikan perubahan. Kematian yang selalu melahirkan ketakutan teramat sangat, kegelisahan terdalam sekaligus kehancuran Benteng pertahanan terakhir, kemudian menyisakan hanya puing-puing pilu berupa serpihan-serpihan mimpi dikaki langit nan tajam terhunus.

Debut hidup yang terlalu berat, Seperti Fight begitu ronde Pertama berbunyi. Tim Evakuasi bekerja keras, Badan Legislatif tak mau ketinggalan dalam pengambilan-pengambilan keputusan yang dirasa penting. Susy menjadi wanita tepat untuk tetap tinggal, Sebagai teman Tantenya sekaligus pemegang peran utama urusan tetek bengek rumah.

Menjadi sahabat dan Sparing Partner seimbang kakek nenek menjelang akhir usianya. Dan dialah satu-satunya Peran Protagonis Telenovela hunian penuh intrik dan kompleksitas budaya beda usia itu.

Ary,,, mau nggak mau harus sesegera mungkin kuatkan kuda-kuda kakinya agar nanti tak mudah goyah ketika harus menanggung beban berat disetiap jengkal waktu sepulang sekolah di Tuban sana. Halaman luas penuh pepohonan manja. Pikulan air dari sumur timba lalu mondar-mandir menyirami tanaman-tanaman kesayangan induk semangnya.

Itu belum termasuk kesibukan warung yang menyita kesiagaan penuh sepanjang perekonomian kampung berjalan, Bukan masa muda yang indah tentunya. Termasuk aku,,,meski terdengar lebih mentereng. Kota besar Surabaya menanti. Kebun Binatang,keramaian oleh Mal-Mal baru, Bis Tingkat terkenal itu,dan Keluarga Serdadu dengan 5 orang saudara baruku, Disinilah Militarisasi sesungguhnya terjadi.

Beranjak khas anak kolong, kedisiplinan keras merubah mentalitas dalam sekejab. Fluktuasi emosi, moral yang memaksa selalu bergerak tak beraturan, sesekali cepat melesat bagai anak panah tak jelas sasaran.

Sedikit berbeda,,,Sang "Kepala Burung" kita : Dodot. Seolah sudah takdirnya, Dewi Fortuna senantiasa melekat erat di lebar jidatnya. Keluarga kaya raya berbaik hati memberikan Suaka tanpa syarat. Bakat besar sebagai Kapitalis sejati tanpa hati menemuka Media tepat,seperti anak singa yang kembali pada Habitat aslinya.

Reff


Kemanapun cerobong asap merayap,,,Roda akan tetap berjalan. Malaikat Izrail melemparkan kami bonus status sebagai Yatim Piatu. Kisah usang tentang kekejaman Ibu Tiri kini menjadi panggung yang seakan nyata, Plus berbagai macam modus perampasan hak dan pelecehan nurani bocah-bocah kecil tanpa daya.


"Kata kasihan saja tak"kan cukup,!" Pekikku dalam hati.


Salahsatu orang penyandang silsilah Paman bagiku terlihat jelas senyum nyinyirnya.
"Urus anak sendiri saja susah,!"katanya. Begitu kira-kira skenario picik dalam bebal batok kepalanya. Kemudian ia berlalu, sembunyi muka dari punggung yang terbalut seragam Militernya, tampak gagah meskipun sebenarnya lebih cocok dengan sebuah Tong yang kosong.

Mungkin inilah alasan, mengapa Tuhan tak berikan manusia kemampuan untuk melihat punggungnya sendiri???. 


Dari belakang aku bisa memergokinya, seperti seekor Iblis yang bangga karena sukses menjejalkan manusia dalam Neraka huniannya kelak...Go to Hell....

Tak ada yang mampu kami perbuat, tak ada pembenaran berpihak. Setiap tanah terpijak, adalah batu tajam nan keras, Setiap udara yang kami hirup,laksana bongkahan-bongkahan Meteor panas menusuk hingga jantung & ulu hati kecil kami.

Entah peran dan dosa apa telah harus kami pikul hingga konflik yang biasanya meledak di puncak acara menjadi awal Episode yang entah akan berakhir bagaimana nantinya. Sungguh masih terlalu muda bagiku untuk Memecahkan tembok-tembok karang di lautan lepas. Nafas kecil yang tersengal satu-satu karena gelombang besar laut Utara.

Coda


Sebelum sempat kuakhiri tulisan ini, nyaring nada dari Hand Phone Blackberry membangunkan aku dari duduk yang sejak tadi serasa kurang nyaman, lalu tanpa prasangka macam-macam, segera kubaca pesan:

"Telah Meninggal Dunia Ibu Tercinta ( Agus Syahrul Hermawan ) pada hari Senin,8 Desember 2008. Inna Lillahi,,Wa Inna Illaihi Rajiuun".

Gawatttt....Dia datang lagi. Malaikat yang Sama telah merenggut hati Ibu tercinta dari salah satu sahabat terbaikku. Seperti terlempar dari langit tingkat Tujuh, kurasakan tubuhku sejenak kaku. Barisan kalimat yang membuat bibirku bergetar, terpaksa regang diujung pedang sang Malaikat.

 Aku seperti sudah dalam Jarak Tembaknya.Terkokang!!!.


Sang Malaikat menunjukkan kekuatannya padaku. Tak pernah meleset, tak mungkin salah sasaran. Memamerkan Ekselerasi jitu dan semua kemampuan terbaiknya dalam menjalankan tugas tetapnya.

"Ini bukan sembarang Messages,!". Ini jelas,sebuah Provokasi tingkat tinggi yang datang dengan menumpang "pesan" dalam kerangka waktu yang ia rencanakan jauh-jauh sebelumnya. Mencoba menakut-nakutiku,ya,,menakut-nakuti aku. Tarikan nafasku begitu terasa panjang namun tak beraturan. Menggalang segala kekuatan,bersiap bendera tanda perang.

Lalu dalam sekejab,,,,

"Kau boleh takuti semua orang wahai sang Malaikat,!". Tapi bukan Aku.....
Pada Pertarungan yang hanya menunggu waktu. Yaaa "Ini hanya soal waktu,!".....


Semua yang kini ada,,,Dulu pernah ada. Dan semua yang kini ada,,,Esok akan kembali.
Hingga Malaikat yang sama itu kembali lagi... lagi...


Artikel Terkait

Song Writer & Penulis 


This Is The Newest Post

Notes Archive